Panas! Gusti Moeng Tantang Purboyo Tes DNA, Polemik Raja Kembar Keraton Solo

Solo, SoloTimes.id – Konflik suksesi di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali memanas. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng secara terbuka menantang KGPH Purboyo yang dinobatkan sebagai PB XIV untuk menjalani tes DNA demi membuktikan garis keturunan.

Pernyataan itu disampaikan saat peringatan Hari Tari Dunia di kawasan keraton, Kamis (30/4/2026). Menurutnya, langkah tersebut menjadi cara paling jelas untuk mengakhiri konflik berkepanjangan setelah wafatnya Paku Buwono XIII pada November 2025.

Gusti Moeng menilai polemik yang terus bergulir hanya akan memperkeruh suasana di internal keraton jika tidak segera diselesaikan secara tegas. Ia pun mendorong pembuktian ilmiah agar tidak lagi muncul perdebatan soal legitimasi.

“Daripada kita ramai terus, ya buktikan aja, dengan tes DNA,” ujar Moeng.

Ia menegaskan, kejelasan garis keturunan menjadi dasar utama dalam menentukan siapa yang berhak menduduki takhta.

Tak hanya soal tes DNA, Gusti Moeng juga melontarkan kritik terhadap pelantikan KGPH Purboyo sebagai PB XIV yang dilakukan oleh ibunya, GKR Pakubuwono XIII Hangabehi. Ia menilai langkah tersebut dilakukan secara sepihak dan memicu polemik.

“Jumowo (jumawa), Jumowo tahu nggih ? Jumowo itu merasa berani, merasa, ya pokoknya jumowo gitu. Berani melantik anaknya yang belum tentu jelas anaknya kakak saya. Kakak saya Sinuhun maksudnya Sinuhun ke tiga belas (PB XIII),” tandasnya.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk duduk bersama mencari jalan keluar agar konflik tidak terus berlarut.

“Makanya yang utama sekarang, ayo kita berembuk lagi. Daripada kita ramai terus, buktikan saja dengan tes DNA, nggih. Saya utamakan begitu,” katanya.

Konflik Makin Melebar ke Internal Keluarga

Ketegangan tak hanya terjadi antar kubu, tetapi juga merambah hubungan keluarga. Gusti Moeng menyoroti sikap keponakannya, G.K.R.P. Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, yang kini berada di pihak Purboyo.

“Saya juga heran dengan keponakan saya anaknya Sinuhun kangmas yang paling tua itu. Dia itu kok musuhin saya, musuhin LDA itu, terus tujuannya itu apa ? Coba panjenengan rasakan, karepe kui opo (maunya apa) ? Kok bisa dia memusuhi saya, aneh banget kan ya,” tandasnya.

Ia mengaku selama ini turut membesarkan keponakannya tersebut sejak kecil.

“Sejak kecil itu tak bimbing kok. Nggak tahu diiming imingin apa sama si genduk itu. Itu yang sangat apa ya. Pada titik akhir kok dia kepleset. Kepleset dia itu,” keluhnya.

Diketahui, polemik “raja kembar” muncul setelah wafatnya PB XIII. Menjelang pemakaman, kubu GKR Pakubuwono XIII Hangabehi melantik KGPH Purboyo sebagai PB XIV.

Namun, langkah itu ditentang oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) dan sebagian keluarga besar keraton yang kemudian menobatkan KGPH Hangabehi sebagai PB XIV versi mereka pada 13 November 2025. Konflik dua kubu ini pun masih berlangsung hingga sekarang.