9 Tahun Diperjuangkan PT HATI, Makanan RTE Kini Jadi Andalan Jemaah Haji
Surakarta, SoloTimes.id – Makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) yang kini menjadi bagian dari layanan konsumsi jemaah haji Indonesia ternyata tidak hadir dalam waktu singkat. Di balik penggunaannya pada penyelenggaraan ibadah haji, terdapat proses panjang yang telah dimulai sejak 2017.
Owner PT Halalan Tayyiban Indonesia (HATI), Puspo Wardoyo, mengatakan ide pengembangan RTE muncul setelah pihaknya melihat berbagai kendala distribusi makanan pada masa puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Saat itu, kemacetan dan kepadatan jutaan jemaah kerap membuat distribusi makanan segar mengalami hambatan.
Berangkat dari kondisi tersebut, PT HATI mulai mengembangkan teknologi makanan siap saji yang mampu bertahan lama dan tetap aman dikonsumsi. Menurut Puspo, pengembangan produk tersebut dilakukan secara bertahap dengan menggandeng berbagai pihak, termasuk Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan otoritas haji Arab Saudi.
Perjalanan RTE tidak selalu mulus. Setelah mulai mendapat peluang masuk ke layanan haji pada 2019, implementasinya tertunda akibat pandemi COVID-19. Program tersebut baru kembali berjalan beberapa tahun kemudian dan sempat menghadapi tantangan karena masih minimnya pemahaman mengenai teknologi makanan siap saji.
Meski demikian, penggunaan RTE terus berkembang. Pada 2024, PT HATI berhasil menjadi pemenang seleksi penyedia makanan siap saji yang digelar Kementerian Agama dan dipercaya memasok sebagian besar kebutuhan RTE bagi jemaah haji Indonesia. Keberhasilan itu berlanjut pada musim haji 2025 dan 2026.
Puspo menilai RTE memiliki sejumlah keunggulan dibanding makanan segar, terutama dalam hal distribusi. Selain lebih praktis, makanan dapat dibawa langsung oleh jemaah saat beraktivitas di Masjidil Haram tanpa harus kembali ke hotel untuk makan.
Menurutnya, model layanan seperti ini berpotensi menjadi solusi bagi jemaah lanjut usia yang harus menghadapi jarak hotel yang cukup jauh dari Masjidil Haram serta cuaca ekstrem di Arab Saudi.
Ke depan, ia optimistis penggunaan RTE akan semakin luas dalam layanan haji. Selain menjamin standar kualitas dan keamanan pangan, teknologi tersebut dinilai mampu mendukung pelayanan konsumsi yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan jemaah di Tanah Suci. (RYP)

