Di Balik Makanan Haji Indonesia di Arab Saudi, Ada Inovasi Ready to Eat dari Puspo Wardoyo
Boyolali, SoloTimes.id – Persoalan distribusi makanan bagi jutaan jamaah haji di Arafah dan Mina selama ini menjadi tantangan besar setiap musim haji. Kepadatan jamaah, kemacetan jalur logistik, hingga keterbatasan dapur umum kerap menyebabkan makanan datang terlambat bahkan tidak layak konsumsi.
Melihat kondisi tersebut, pengusaha kuliner Indonesia sekaligus pemilik PT Halalan Thayyiban Hati (HATI), Puspo Wardoyo, menghadirkan inovasi makanan Ready to Eat (RTE) atau makanan siap santap khas Indonesia untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah di Arab Saudi.
Menurut Puspo, ide tersebut lahir dari pengalaman panjangnya mengelola usaha katering dan rumah makan Indonesia di Tanah Suci. Ia menyaksikan langsung sulitnya mendistribusikan makanan kepada jutaan jamaah yang berkumpul dalam waktu bersamaan di area terbatas.
Ia menjelaskan, kondisi di Arafah dan Mina tidak memungkinkan pembangunan dapur besar maupun gudang penyimpanan karena area yang tersedia sangat sempit dan dipadati jamaah.
“Dari situlah muncul gagasan menghadirkan makanan praktis yang tetap aman dikonsumsi serta memiliki cita rasa khas Indonesia,” ujarnya saat temui di Hotel Capsule, Kalipepe Land, Boyolali, Jumat (15/5/2026).
Sejak 2019, PT HATI mulai melakukan penelitian untuk mengembangkan makanan siap santap tanpa bahan pengawet. Riset tersebut berlangsung lebih dari dua tahun dengan fokus menjaga rasa, tekstur, dan daya tahan makanan agar tetap berkualitas meski disimpan dalam waktu lama.
Hasil pengembangan itu melahirkan teknologi sterilisasi menggunakan suhu tinggi hingga 121 derajat Celsius dengan tekanan tertentu. Makanan kemudian dikemas secara vakum sehingga bebas dari mikroba dan mampu bertahan hingga 18 bulan tanpa pengawet.
Produk yang dikembangkan mencakup berbagai menu khas Nusantara seperti rendang ayam, opor ayam, semur ayam, gulai kambing, hingga bubur siap santap. Menariknya, makanan tersebut dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu dipanaskan kembali.
Selain memproduksi makanan siap saji, PT HATI juga memasok ratusan ton pasta bumbu khas Indonesia untuk dapur katering jamaah di Arab Saudi. Langkah ini dilakukan agar cita rasa makanan tetap autentik Indonesia meskipun dimasak oleh tenaga dapur dari luar negeri.
Puspo menuturkan seluruh rempah dan bahan baku diperoleh dari petani lokal Indonesia. Ia juga menilai teknologi sterilisasi tanpa bahan pengawet lebih aman bagi kesehatan jamaah, terutama lansia.
“Perjalanan inovasi tersebut tidak selalu mulus. Pada tahap awal, produk makanan siap santap buatan PT HATI sempat diragukan sehingga penggunaannya belum maksimal,” jelasnya.
Kondisi itu bahkan membuat perusahaan mengalami kerugian besar. “Dulu awal awal pertama itu saya rugi hampir 100 miliar, karena orang pada takut konsumsi tidak percaya kalau produk saya bisa dimakan, akhirnya banyak yang gak dimakan,” ungkapnya.
Namun seiring waktu, produk tersebut mulai dipercaya setelah terbukti efektif membantu distribusi konsumsi jamaah haji. Kini makanan Ready to Eat menjadi salah satu solusi penting dalam pelayanan konsumsi jamaah Indonesia di Arab Saudi.
Saat ini PT HATI mempekerjakan ratusan tenaga kerja lokal dengan standar produksi higienis yang ketat. Produknya juga telah mengantongi berbagai sertifikasi, mulai dari BPOM, halal BPJPH, ISO 22000 hingga izin dari otoritas pangan Arab Saudi.
Ke depan, Puspo berharap inovasi makanan siap santap ini tidak hanya dimanfaatkan saat puncak ibadah haji di Arafah dan Mina, tetapi juga dapat digunakan lebih luas untuk kebutuhan jamaah Indonesia selama berada di Makkah dan Madinah. (RYP)

