Dwi Tunggal Malam 1 Suro, Hanya Kubu PB XIV Hangabehi Kirab Pusaka
Surakarta, SoloTimes.id – Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali berlangsung di tengah dualisme kepemimpinan. Dua kubu yang sama-sama mengklaim sebagai Paku Buwono XIV menggelar rangkaian acara di kawasan keraton pada Selasa (16/6/2026) malam. Namun, hanya kubu PB XIV Hangabehi yang mengeluarkan pusaka dan menggelar kirab keliling.
Kedua kubu mengadakan kegiatan di Sasana Sewaka, tetapi dengan posisi yang berbeda. PB XIV Hangabehi duduk menghadap ke timur, sedangkan PB XIV Purbaya menghadap ke arah barat atau Sasana Parasedya. Para peserta dari masing-masing kubu juga menggunakan tanda pengenal yang berbeda.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) kubu PB XIV Hangabehi, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan rangkaian kegiatan yang digelar pihaknya berbeda dengan kubu PB XIV Purbaya. Menurutnya, haul PB X sudah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya sehingga malam 1 Suro difokuskan untuk doa bersama dan kirab pusaka.
“Kalau dari kami kegiatan itu sudah dilakukan kemarin supaya malam ini tidak terlalu padat. Nanti ada dukutan, doa bersama, perjalanan kirab, ada yang bermunajat dan salat tahajud sambil menunggu kirab kembali seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Eddy.
Prosesi kirab dimulai sekitar pukul 23.35 WIB setelah PB XIV Hangabehi memberikan perintah untuk mengeluarkan pusaka. Sebanyak 14 pusaka yang terdiri dari satu keris dan 13 tombak dibawa keluar oleh para sentana dan abdi dalem dari kawasan Paningrat Ler.
Saat pusaka diberangkatkan untuk kirab, PB XIV Purbaya terlihat tetap berada di Sasana Parasedya tanpa mengeluarkan pusaka keraton.
Eddy mengatakan pihaknya memutuskan mengeluarkan pusaka setelah mendapat informasi bahwa kubu PB XIV Purbaya tidak akan menggelar kirab pusaka.
“Karena dalam rapat teman-teman juga sudah mendengar bahwa yang di sana tidak mengeluarkan pusaka, ya sudah kita yang mengeluarkan,” ujarnya.
Ia bersyukur pelaksanaan kirab berjalan lancar dan khidmat. Menurutnya, malam 1 Suro menjadi momentum untuk berdoa bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
Di sisi lain, kubu PB XIV Purbaya memilih tidak menggelar kirab pusaka. Pengageng Paran Parakarsa PB XIV Purbaya, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat atau Kanjeng Dany, mengatakan keputusan tersebut merupakan dawuh langsung dari PB XIV Purbaya yang disampaikan menjelang pelaksanaan acara.
Menurut Dany, keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai hal, termasuk keamanan pusaka keraton.
“Dengan pertimbangan berbagai macam hal, termasuk prioritas keselamatan pusaka dan lain hal, maka Sinuhun memutuskan untuk tidak miyoskan pusaka malam hari ini,” katanya.
Ia menegaskan bahwa peringatan Malam 1 Suro tidak hanya soal kirab pusaka. Masih banyak rangkaian ritual lain yang tetap dijalankan, seperti haul PB X, wilujengan, doa bersama, iktikaf, salat hajat, hingga doa di sejumlah lokasi yang telah menjadi bagian dari tradisi keraton.
Dany juga membantah keputusan tersebut diambil karena kubu PB XIV Mangkubumi lebih dahulu menggelar kirab pusaka. Menurutnya, keputusan itu sepenuhnya merupakan kewenangan PB XIV Purbaya sebagai pemegang otoritas atas pusaka keraton.
“Tidak ada kaitannya dengan pihak lain. Ini merupakan otoritas Sinuhun. Malam ini pusaka tetap berada di Ndalem Ageng dalam keadaan aman dan tidak dikeluarkan,” tegasnya.
Dengan keputusan tersebut, peringatan Malam 1 Suro tahun ini kembali menunjukkan perbedaan sikap di antara dua kubu Keraton Solo. Kubu PB XIV Mangkubumi memilih melanjutkan tradisi kirab pusaka, sementara kubu PB XIV Purbaya menggelar rangkaian doa dan ritual tanpa mengeluarkan pusaka keraton. (Ayu Sastro)

