Hilirisasi Peternakan Diperkuat, Susu Boyolali Targetkan Pasok MBG

Boyolali, Solo Times – Pemerintah pusat mendorong penguatan hilirisasi sektor peternakan di Boyolali agar produksi susu sapi perah dapat terserap pasar secara optimal, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy, menilai Boyolali memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Pak Bupati (Boyolali) punya program bagus sekali. Dari ngurus sapi, MBG, sampai program-program lain yang ada hubungannya dengan swasembada pangan, energi, dan air,” kata Rachmat saat ditemui di sela kunjungannya ke Boyolali, Rabu (29/4/2026).

Dalam kunjungannya ke KUD Cepogo, Rachmat meninjau fasilitas pendingin susu (cooling unit) dan berdialog langsung dengan para peternak serta pengurus koperasi. Ia memastikan produksi susu sapi perah di daerah tersebut dapat terserap pasar dan masuk dalam rantai pasok program MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sekretaris Daerah Boyolali, M Syawaludin, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan mengkaji pengembangan hilirisasi peternakan, khususnya komoditas susu dan daging sapi agar dapat dimanfaatkan lebih luas.

“Persoalan hilirasi tadi harapannya nanti susunya ini, termasuk dagingnya, nanti bisa disalurkan ke SPPG,” kata Syawaludin di lokasi yang sama.

Sementara itu, pelaku usaha susu lokal Boyolali, Edwin Yudianto, menyebut potensi penyerapan susu untuk program MBG cukup besar. Ia menyebut jumlah penerima manfaat MBG di Boyolali mencapai sekitar 200 ribu orang, dengan kebutuhan susu yang relatif tinggi.

“Kurang lebih 20 ribu liter (susu) untuk kebutuhan MBG sudah cukup. Nah, kita akan kolaborasi dengan Grup Wong Solo untuk scale up (peningkatan produksi) perusahaan yang sudah kita rintis selama kurang lebih 10 tahun,” kata pemilik Susu Boyolali Andalan, Edwin Yudianto, yang hadir di KUD Cepogo.

Edwin menambahkan, saat ini perusahaannya memproduksi sekitar 1.200 liter susu per hari dan telah memasok ke sekitar 15 dapur SPPG, baik di Boyolali maupun di luar daerah.

“(Suplai ke SPPG) Itu seminggu sekali,” ujar dia.

Dukungan terhadap penguatan hilirisasi juga datang dari pengusaha kuliner, Puspo Wardoyo. Ia menyatakan kesiapan membantu pengembangan industri pengolahan susu di Boyolali guna memenuhi kebutuhan program MBG yang terus meningkat.

“Harapan kami, bisa ikut membantu terciptanya pabrik susu di sini (Boyolali). Karena memang kami membutuhkan susu (untuk MBG). Selama ini susah dan tidak dapat juga untuk MBG,” kata Puspo di KUD Cepogo.

Ia menambahkan, saat ini SPPG yang dikelolanya sudah mulai menggunakan susu lokal, meski belum sepenuhnya optimal. Ke depan, pihaknya berencana memanfaatkan pabrik susu lokal yang sudah ada dan meningkatkan kapasitas produksinya agar seluruh kebutuhan SPPG di Boyolali dapat dipenuhi dari produksi daerah sendiri.