Panembahan Agung Minta Pelaksanaan Gerebeg Besar Idul Adha Berlangsung Damai

Surakarta, SoloTimes.id – Panembahan Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, meminta seluruh keluarga besar keraton menjaga suasana tetap kondusif menjelang pelaksanaan Gerebeg Besar Idul Adha Tahun Dal 1959. Ia menegaskan tradisi budaya tersebut harus digelar dengan penuh kerukunan tanpa memunculkan konflik antarkelompok.

Pesan itu disampaikan dalam rapat koordinasi yang digelar bersama unsur keraton, pemerintah, TNI, dan Polri di Solo, Rabu (12/5/2026). Pertemuan tersebut membahas persiapan pelaksanaan Gerebeg Besar sekaligus pengamanan sejumlah agenda budaya Keraton Surakarta.

Juru bicara Panembahan Agung, Kangjeng Prof. (HC) Dr. (HC) Candra Malik Pakoenegoro, mengatakan Panembahan Agung ingin seluruh pihak mengedepankan persatuan dan tidak lagi membawa kepentingan pribadi maupun kelompok dalam kegiatan adat keraton.

“Gusti Tedjowulan memberikan arahan agar Gerebeg Besar Idul Adha berjalan lancar, aman nyaman, dan damai, jangan lagi menonjolkan ego personal maupun kelompok. Keluarga Besar Keraton Surakarta harus bersatu. Tidak boleh ada gesekan dari mana pun. Jangan mengadakan Gerebek Besar Idul Adha sendiri-sendiri,” kata Pakoenegoro.

Dalam rapat tersebut hadir sejumlah perwakilan keraton dan pemerintah daerah, di antaranya Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta GKR Wandansari, Kapolsek Pasar Kliwon AKP Sunarto, Danramil 05/0735 Pasar Kliwon Kapten Kav Supriyanto, Camat Pasar Kliwon Ari Wibowo, hingga perwakilan Dinas Perhubungan dan Satpol PP Surakarta.

Menurut Pakoenegoro, unsur TNI dan Polri juga akan dilibatkan untuk menjaga keamanan selama pelaksanaan Gerebeg Besar serta proyek revitalisasi Keraton Surakarta tahap kedua yang dijadwalkan dimulai tahun ini.

“Insya Allah, pengerjaan Revitalisasi Keraton Kilen akan dimulai pertengahan tahun ini. Berbagai tahapan awal sedang berlangsung saat ini. Selain Keraton Kilen, Kantordalem Panembahan Agung juga menjadi prioritas,” ujarnya.

Terkait jadwal Gerebeg Besar, pihak keraton masih menunggu keputusan resmi pemerintah mengenai penetapan Hari Raya Idul Adha 2026. Jika Idul Adha jatuh pada 27 Mei 2026, maka tradisi gerebeg direncanakan berlangsung sehari setelahnya.

“Prinsipnya, misalkan Idul Adha ditetapkan pada 27 Mei 2026, maka Gerebeg Besar akan diadakan hari berikutnya atau hari kedua Idul Adha,” jelasnya.

Selain mempersiapkan Gerebeg Besar, Keraton Surakarta saat ini juga tengah melakukan pendataan aset budaya bersama Kementerian Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah. Inventarisasi dimulai dari Museum Keraton Surakarta dan nantinya berlanjut ke sejumlah kawasan lain di lingkungan keraton.

Pakoenegoro menyebut pendataan itu mencakup pusaka-pusaka Kagungandalem yang diharapkan dapat kembali ditempatkan sesuai lokasi asalnya.

“Gusti Tedjowulan terus berusaha merangkul semua pihak agar pendataan berjalan sebaik-baiknya. Kekayaan budaya, terutama Pusaka-Pusaka Kagungandalem juga akan didata, dan sekiranya sudah berpindah tempat maka akan dikembalikan ke tempatnya semula. Beliau berharap semua pihak bersikap kooperatif,” tegasnya.

Keraton juga mulai menyiapkan pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro Tahun Be 1960 yang akan diawali dengan doa bersama dan kirab pusaka. Agenda tahunan tersebut diharapkan tak hanya menjadi tradisi budaya, tetapi juga mampu mendukung sektor pariwisata di wilayah Soloraya.

“Arahan Gusti Tedjowulan, kita akan mengadakan Doa Bersama pada Malam 1 Suro, dilanjutkan Kirab Pusaka-Pusaka Kangjeng Kyai Ageng Kagungandalem. Selain bahwa memang dinanti-nantikan masyarakat luas, Kementerian Kebudayan juga berharap kegiatan tahunan ini meningkatkan potensi pariwisata, khususnya di Soloraya,” pungkas Pakoenegoro.