10 Gapura Finalis di Solo Pamer Desain Unik, Ada Motif Batik

Surakarta, SoloTimes.id – Gapura kampung di Kota Surakarta berubah menjadi kanvas raksasa untuk menuangkan kreativitas warga. Dalam Lomba Gapura 2026, setiap wilayah menghadirkan desain berbeda, mulai dari permainan warna, detail ornamen, hingga motif batik yang memperkuat identitas Solo sebagai kota budaya.

Dari lebih dari 180 gapura yang ikut berkompetisi, 10 di antaranya berhasil melaju ke babak final. Ketika penilaian berlangsung, keberagaman bentuk dan karakter masing-masing gapura justru menjadi daya tarik tersendiri.

Wakil Wali Kota Surakarta yang turut meninjau penilaian mengaku kesulitan menentukan gapura terbaik karena setiap finalis memiliki keunggulan masing-masing.

“Alhamdulillah sudah terpilih sepuluh besar yang hari ini kami melanjutkan penilaian. Bagus-bagus semua. Saya sampai bingung ini memilih yang mana menjadi pemenang,” ujarnya.

1. Gapura bukan sekadar pintu masuk kampung

Lomba ini membuat gapura tidak hanya berfungsi sebagai penanda sebuah wilayah. Tembok dan struktur gapura disulap menjadi ruang ekspresi yang memperlihatkan kreativitas masyarakat.

Dewan juri menilai sejumlah aspek, mulai dari bentuk dan detail gapura, keserasian warna, keindahan lingkungan sekitar, hingga kemampuan peserta menghadirkan ikon dan karakter Kota Solo.

Salah satu unsur yang cukup menonjol adalah penggunaan motif batik. Motif tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk visual dan menjadi bagian dari wajah gapura yang dinilai.

“Banyak yang sangat detail, kaitannya dengan motif-motif batik. Ini yang menjadi satu ciri khas Kota Solo, kota budaya, yang ternyata bisa ditampilkan melalui media tembok, melalui cat,” jelasnya.

2. Ada gapura warna-warni hingga penuh detail

Ke-10 finalis memiliki karakter visual yang tidak seragam. Ada yang mengandalkan warna-warna pekat dan mencolok, sementara gapura lainnya menonjolkan detail ornamen yang membutuhkan ketelitian dalam pengerjaannya.

Perbedaan tersebut tidak lepas dari kreativitas seniman dan warga di masing-masing wilayah. Bahkan, terdapat pembatik yang ikut menuangkan keahliannya dalam karya gapura.

“Yang menarik bagi saya ternyata para seniman-seniman di Kota Solo yang tinggal di satu wilayah itu sangat kental memberikan gambaran ciri khas goresan warna-warna di gapuranya masing-masing. Ada yang konsepnya warna-warninya pekat, ada yang detail, bahkan ada pembatik juga,” ungkapnya.

Keberagaman konsep itu membuat setiap gapura memiliki karakter tersendiri. Alih-alih sekadar mempercantik lingkungan menjelang perayaan kemerdekaan, gapura menjadi representasi kreativitas masyarakat di tingkat kampung.

3. Seniman kampung ikut hidupkan budaya Solo

Di balik bentuk dan warna gapura yang menarik perhatian, terdapat keterlibatan seniman serta pegiat budaya di sejumlah wilayah. Mereka ikut menerjemahkan kekayaan budaya lokal menjadi karya visual yang bisa dinikmati masyarakat.

Wakil Wali Kota menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi seni dan budaya masih tumbuh kuat di lingkungan kampung.

“Jadi saya lihat muncul banyak sekali seniman-seniman dan juga pegiat budaya yang ada di wilayah masing-masing yang hadir di sebuah karya besar ini. Itu yang menarik bagi saya,” katanya.

Ia berharap kreativitas serupa terus berkembang setiap tahun. Menurutnya, Lomba Gapura bukan hanya kompetisi untuk menentukan karya terbaik, tetapi juga momentum menggerakkan warga agar semakin guyub dan bergotong royong.

Berbagai identitas Solo seperti batik, wayang, hingga destinasi wisata juga diharapkan semakin sering ditampilkan melalui karya masyarakat.

“Untuk kegiatan penyambut 17-an ini merupakan semangat bersama-sama untuk menggerakkan masyarakat lebih guyub, gotong royong, dan menunjukkan bahwa potensi Kota Solo mulai dari batik, wayang dan juga destinasi-destinasi yang ada di Kota Solo ini sudah patut untuk dimunculkan atau ditampilkan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Sebanyak 10 finalis kini menunggu hasil penilaian akhir. Pemenang Lomba Gapura 2026 nantinya akan ditentukan berdasarkan keseluruhan aspek, termasuk kreativitas desain, detail, keserasian, lingkungan, serta kekuatan identitas budaya yang ditampilkan. (Ayu Sastro)