Kemenpora Fokus Cetak Pelatih Disabilitas Bersertifikat
Karanganyar, SoloTimes.id – Pemerintah mulai memperkuat pembinaan olahraga disabilitas dengan memperbanyak pelatih bersertifikat di daerah. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama National Paralympic Committee Indonesia (NPC Indonesia) menjalankan program sertifikasi pelatih disabilitas yang diikuti peserta dari 29 daerah di Indonesia.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, mengatakan keberadaan pelatih menjadi faktor penting dalam melahirkan atlet-atlet disabilitas berprestasi. Menurutnya, pembangunan atlet tidak bisa berjalan maksimal tanpa didampingi sosok yang memahami pembinaan olahraga disabilitas.
1. Kemenpora mulai sertifikasi pelatih disabilitas
Erick menjelaskan program sertifikasi tersebut menjadi langkah awal pemerintah untuk memperkuat kualitas pembinaan olahraga disabilitas di daerah. Para peserta nantinya diharapkan kembali ke daerah masing-masing dan menjadi tenaga pelatih yang kompeten.
“Disabilitas Propreda yang juga Chief Demision, masukan dari Pak Wali, Pak Bupati, bahwa kita bersepakat penting sekali dalam menciptakan banyak atlet, itu perlu yang namanya pelatih. Tidak mungkin pembangunan atlet dari daerah tanpa dikawal tentu figur-figur yang mengerti bagaimana melahirkan atlet,” ujar Erick.
Ia menegaskan program tersebut bukan bentuk eksklusivitas Kemenpora, melainkan kolaborasi bersama NPC Indonesia untuk memperluas akses pelatih olahraga disabilitas di berbagai daerah.
“Nah hari ini, alhamdulillah, kita akan coba mensertifikasi, ya ini bukan berarti kita jadi menara gading Kemenpora, tapi bekerja sama dengan NPC, agar mereka kembali ke daerah menjadi kualifikasi diterima untuk menjadi pakar ke pelatihan,” katanya.
2. Jumlah pelatih dinilai masih kurang
Dalam tahap awal, program tersebut diikuti sekitar 200 peserta. Namun Erick mengakui jumlah itu masih belum mencukupi kebutuhan nasional. Pemerintah berencana menambah kuota peserta hingga 100 orang lagi dan menjadikannya program berkelanjutan setiap tahun.
“Nah, dan ini jumlahnya 200 tidak cukup, saya tahu. Kita akan coba lagi nanti tambah 100, dan kalau bisa setiap tahun akan terus bertambah, dan kita berharap jangan ganti menteri, ganti program,” ucap Erick.
Menurut Erick, kebutuhan pelatih olahraga disabilitas di Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan data pemerintah, terdapat sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas dan sekitar 11 persen di antaranya gemar berolahraga.
“Jadi program ini terus ada, karena kembali, makin banyak pelatih, makin bagus. Ya, karena jumlah atlet akan makin banyak, dari 22,9 juta disabilitas, itu 11% gemar berolahraga. Jadi hampir 2 juta lebih,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti kebutuhan pelatih di sekolah-sekolah yang memerlukan tenaga ahli pembinaan olahraga disabilitas.
3. NPC siapkan database dan pemantauan atlet nasional
Sementara itu, Chief de Mission NPC Indonesia, Reda Manthovani, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sistem database bernama “Jaga Inklusi Juara”. Sistem tersebut digunakan untuk memantau atlet aktif, calon atlet, hingga atlet yang memasuki masa pensiun.
“Dalam kegiatan ini, itu kami juga menyediakan sistem atau database berupa jaga inklusi juara. Di mana pertama, kita mengumpulkan seluruh atlet yang ada, yang memang aktif, terus calon-calon atlet melalui program mendobrak batas,” kata Reda.
Menurutnya, database itu nantinya membantu NPC dalam memetakan perkembangan atlet serta menentukan langkah pembinaan berikutnya.
“Nah, selesai ini nanti kita arahkan mengikuti TOT ataupun mungkin punya minat lain di bidang seni, nanti kita arahkan ke bidang yang lain,” lanjutnya.
Selain database, NPC juga mulai menerapkan sistem pelatihan jarak jauh berbasis aplikasi. Melalui sistem itu, perkembangan latihan atlet di daerah dapat dipantau langsung oleh pelatih nasional.
“Nah, di dalam sistem ini juga, ada metode pelatihan dari jarak jauh. Artinya apa? Apa yang dilatih di daerah masing-masing, ada aplikasi yang di-input, bahkan melalui jam, itu bisa terkoneksi langsung ke NPC di sini,” ujar Reda.
“Jadi Pak Zenni sebagai ketua umum atau pelatih di tingkat nasional ini, itu bisa melihat perkembangan atlet disabilitas di setiap daerah,” tambahnya. (RYP)

