Direktur SIPA Jadi Juri Kompetisi Tari Kontemporer Internasional di Busan
Surakarta, SoloTimes.id – Direktur Solo International Performing Arts (SIPA) Festival, Dr. R.Ay. Irawati Kusumorasri, M.Sn., dipercaya menjadi salah satu juri dalam kompetisi tari kontemporer internasional AK21 (Arts Korea 21) yang digelar di Kota Busan, Republik Korea Selatan. Ajang tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Busan International Dance Festival (BIDF) 2026 yang berlangsung pada 2-8 Juni 2026.
Keterlibatan Irawati dalam ajang bergengsi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Ia menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang duduk sebagai dewan juri bersama lima juri lainnya dari Estonia, Hong Kong, Prancis, Polandia, dan Taiwan.
Setibanya di Busan, Irawati menghadiri BIDF Fringe yang untuk pertama kalinya diselenggarakan sebagai bagian dari BIDF 2026 di Busan Cinema Center pada 2-4 Juni. Dalam kesempatan itu, ia juga berdiskusi dengan para juri internasional guna menyamakan persepsi mengenai kriteria penilaian kompetisi.
Rangkaian BIDF 2026 dibuka secara resmi pada 5 Juni dengan pertunjukan spesial dari delegasi Quebec, Kanada, di Busan Cinema Center. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi jejaring yang mempertemukan para delegasi, tamu undangan, dan seniman peserta festival dari berbagai negara.
Pada 6 hingga 7 Juni, pertunjukan berlanjut di panggung terbuka Pantai Haeundae yang menjadi salah satu ikon wisata Busan. Sebanyak 18 delegasi dari Korea Selatan dan berbagai negara seperti Indonesia, Taiwan, Prancis, Jepang, Argentina, Kanada, Hong Kong, Denmark, serta Mongolia menampilkan karya terbaik mereka di hadapan ribuan penonton.
Puncak kompetisi AK21 berlangsung pada 7 Juni di Busan Cultural Center. Empat koreografer muda Korea Selatan menampilkan karya terbaik mereka di hadapan dewan juri.
Penampil pertama, Yeom Seunghoon, membawakan karya berjudul I Don’t OOO You! yang merefleksikan respons terhadap berbagai hal negatif. Koreografer kedua, Yoon Haesub, menampilkan Royal Blue yang mengangkat sisi konsumtif manusia. Sementara Lee Jongyoon dari POD Dance Project, yang sebelumnya tampil di SIPA Festival 2025, membawakan karya Return to the Home tentang peran dan tanggung jawab seorang kepala keluarga.
Penampilan terakhir datang dari Bae Hyeonwoo melalui karya What Do We Feel, yang mengeksplorasi ekspresi emosi dan energi manusia melalui gerak tari.
Setelah melalui proses penilaian, dewan juri menetapkan Bae Hyeonwoo sebagai pemenang AK21 2026. Karyanya dinilai mampu menyampaikan energi dan perasaan secara kuat melalui koreografi yang ditampilkan.
Sebagai pemenang, Bae Hyeonwoo menerima sertifikat yang ditandatangani langsung oleh Wali Kota Busan serta hadiah sebesar 5 juta won Korea Selatan. Sementara tiga finalis lainnya memperoleh penghargaan masing-masing sebesar 2 juta won.
“Koreografer muda Korea yang berpotensi dapat menampilkan karya terbaiknya di kompetisi tari kontemporer AK21. Saya sebagai duta Indonesia turut bangga menjadi salah satu juri di ajang AK21 dan bertemu para koreografer bertalenta Korea sekaligus para dewan juri berpengalaman dari lima negara lainnya,” ujar Irawati.
Menurutnya, kompetisi tersebut menjadi ruang penting bagi para seniman muda untuk menunjukkan kreativitas sekaligus memperluas jejaring internasional di bidang seni pertunjukan.
Rangkaian BIDF 2026 ditutup dengan kegiatan networking yang berlangsung di Restaurant Oase, kawasan Pantai Haeundae. Dalam kesempatan tersebut, para juri menyampaikan masukan dan evaluasi kepada seluruh peserta AK21 sebagai bekal untuk pengembangan karya di masa mendatang.
Irawati menilai antusiasme para koreografer muda dalam menerima kritik dan saran menunjukkan semangat besar untuk terus berkembang di kancah tari kontemporer internasional. Keterlibatan Indonesia melalui SIPA dalam ajang ini diharapkan semakin memperkuat hubungan budaya dan kolaborasi seni pertunjukan antara Indonesia dan Korea Selatan. (RYP)

