100 Siswa Penyandang Disabilitas Masuk Gedung Agung, Foto Bareng Titiek Soeharto

Yogyakarta, SoloTimes.id –

Wajah semringah terpancar dari sekitar 100 siswa penyandang disabilitas beserta guru pendamping saat mendapat kesempatan langka mengunjungi Istana Kepresidenan Yogyakarta atau Gedung Agung, Rabu (12/7/2026) sore.

Tak sekadar melihat kemegahan bangunan bersejarah, para siswa dari sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah DIY juga berkesempatan berfoto bersama sejumlah tokoh dan pejabat penting. Mereka kemudian diajak berkeliling untuk melihat langsung berbagai koleksi bersejarah yang tersimpan di dalam kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Suara Inklusi untuk Semua 2026 yang digagas Diwa Foundation melalui Program Istana Untuk Rakyat (Istura).

Antusiasme para siswa semakin terlihat ketika mereka dapat berfoto bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Deni Mulyana, anggota DPD RI Daud Yordan, serta jajaran Forkopimda DIY dan kepala daerah di wilayah Yogyakarta.

Dilan (16), siswa SLB Pembina Kota Yogyakarta, mengaku senang mendapat kesempatan pertama kali masuk ke Gedung Agung.

“Senang sekali. Saya pertama kali masuk Istana Negara Yogyakarta. Kapan-kapan lagi kalau diajak masuk istana, ikut!” ujar Dilan sambil tersenyum.

Kesempatan Langka bagi Siswa Disabilitas

Ketua MKKS Provinsi DIY Nurkhasanah mengapresiasi kesempatan yang diberikan kepada para siswa penyandang disabilitas untuk mengenal lebih dekat salah satu bangunan bersejarah di Yogyakarta tersebut.

Menurutnya, keterlibatan siswa disabilitas dalam kegiatan di Gedung Agung menjadi bentuk nyata bahwa ruang publik dan warisan sejarah juga harus dapat dirasakan seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Ia juga mengapresiasi Diwa Foundation yang telah menggagas kegiatan tersebut dan berharap kolaborasi serupa dapat terus dilakukan.

“Harapannya Diwa Foundation bisa berkolaborasi untuk kegiatan lainnya, terutama spesifik untuk mengangkat anak-anak penyandang disabilitas. Agar karya mereka bisa dilihat dan dimanfaatkan masyarakat,” ungkap Nurkhasanah.

Bagi para guru pendamping, kunjungan ini bukan sekadar agenda wisata. Para siswa mendapatkan pengalaman langsung yang selama ini mungkin hanya mereka dengar melalui cerita atau pembelajaran di sekolah.

“Ini Sejarah” bagi Para Pendamping

Ketua Panitia Suara Inklusi untuk Semua 2026, Diah Warih Anjari, mengatakan kehadiran para siswa penyandang disabilitas di Gedung Agung menjadi momen istimewa.

Terlebih, kunjungan tersebut berlangsung di tengah kehadiran sejumlah tokoh nasional, pejabat pemerintah, TNI dan Polri, serta jajaran pemerintah daerah.

Menurut Diah, pihak Istana Kepresidenan Yogyakarta telah memberikan perhatian khusus kepada para siswa dengan memberikan kesempatan untuk masuk dan melihat langsung bagian dalam Gedung Agung.

“Jadi para siswa ini tidak lagi hanya mendengar kemegahan Gedung Agung. Mereka bisa masuk gedung bersejarah ini dan melihat koleksi-koleksinya,” kata Diah yang juga merupakan inisiator Suara Inklusi untuk Semua 2026.

Ia menilai pengalaman tersebut penting karena memberikan kesempatan kepada anak-anak penyandang disabilitas untuk merasakan secara langsung ruang sejarah yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa.

Dari Istana hingga Parade Kebangsaan

Kunjungan ke Gedung Agung menjadi salah satu rangkaian kegiatan Suara Inklusi untuk Semua 2026. Selain Istura, para peserta juga mengikuti parade kebangsaan dan budaya dengan membentangkan bendera sepanjang 1.000 meter.

Rangkaian kegiatan tersebut juga diisi dengan pemecahan rekor MURI melalui pembacaan teks Proklamasi 1945 menggunakan bahasa isyarat dengan peserta dalam jumlah besar.

Gedung Agung sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia. Istana tersebut pernah menjadi tempat Presiden Soekarno menetap sekaligus menjalankan pemerintahan ketika Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia pada 1946–1949.

Bangunan yang berdiri sejak 1824 itu memiliki arsitektur bergaya klasik Eropa dan hingga kini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang berada di jantung Kota Yogyakarta.

Melalui Program Istana Untuk Rakyat, masyarakat dapat mengenal lebih dekat lingkungan Istana Kepresidenan. Namun, kunjungan ke Gedung Agung tetap dilakukan melalui mekanisme pendaftaran dan reservasi yang telah ditentukan.

Bagi para siswa penyandang disabilitas yang hadir dalam kegiatan tersebut, kunjungan kali ini meninggalkan pengalaman yang lebih dari sekadar perjalanan. Mereka bukan hanya melihat sejarah dari luar, tetapi berkesempatan masuk, menyaksikan koleksi secara langsung, dan mengabadikan momen bersama para tokoh di salah satu tempat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. (Ayu Sastro)